BukuNo Comments

 

Penulis: Mortigor Afrizal Purba, S.E.Ak., M.Ak., C.A.

Penerbit: CV. Batam Publisher

ISBN: 978-602-506-330-5

Tahun: 2017


Saudara-saudaraku sesama ciptaan Tuhan (buat yang merasa masih ciptaan Tuhan, tapi kalau kalian sudah merasa lebih berkuasa dan lebih hebat dari Tuhan), sebaiknya tidak usah baca lanjutan buku ini. Karena sepertinya akan membuatmu sakit hati dan kebencianmu terhadap sesama ciptaan Tuhan akan semakin subur, berbunga, berbuah, dan bertambah banyak.

Semester kedua di tahun 2017 sebentar lagi akan kita lewati. Banyak sekali cerita yang bisa kita ingat dalam perjalanan selama satu tahun lalu atau bahkan cerita dari tahun sebelumnya yang masih berlanjut ditahun ini. Ada cerita bahagia, ada cerita duka, ada cerita perdamaian, ada cerita permusuhan, dan ada cerita yang sesungguhnya bukan cerita, tapi karena kita ceritakan menjadi sebuah cerita.

Dari berbagai belahan dunia dan seluruh Indonesia khususnya aku banyak membaca berita, artikel, status media sosial tentang berbagai keadaan di daerah masing-masing. Akan tetapi pada kesempatan ini izinkan aku membahas tentang keadaan negeri kita Indonesia saja, walaupun sebenarnya banyak status media sosial yang asal muasalnya adalah karena kejadian di belahan bumi lainnya.

Dari hati yang paling dalam sejujurnya yang aku inginkan hanya PERDAMAIAN. Yakni kita, aku dan kamu bisa hidup berdampingan satu sama lain tanpa memandang suku, agama, ras dan antar golongan masing-masing. Hidup berdampingan yang aku maksudkan disini adalah hidup berdampingan di dunia nyata dan di dunia maya (media sosial), yang dipenuhi oleh senyum tulus dan tawa bersama.

Aku tidak tau apa yang menjadi referensi dan sumber literatur mu dalam menjalani kehidupan ini, dan aku juga tidak perlu tau dan tidak mau tau. Yang aku tau adalah: “jangan sebarkan kebencian pada orang disebelahmu dan orang disebelahku”. Itu saja sudah luar biasa buatku.

Jika melihat berbagai status dan artikel di media sosial akhir-akhir ini, aku menjadi sangat kuatir akan kelanjutan kehidupan anak-anakku dan anak-anakmu nanti setelah mereka dewasa atau beranjak dewasa. Aku kuatir nanti mereka tidak bisa lagi pergi sekolah dan menikmati dunianya dengan tenang kalau aku dan kamu sudah parang-parangan. Istriku dan istrimu juga tidak bisa lagi belanja ke pasar dengan leluasa. Keluargamu dan keluargaku juga tidak bisa lagi menikmati liburan akhir pecan, liburan sekolah, atau liburan akhir tahun sambil selfie-selfie penuh tawa, jika aku dan kamu sudah parang-parangan.

Aku dan kamu juga tidak ada waktu lagi untuk ngopi bareng sepulang kerja atau ngomongin bisnis di café asik, jika aku dan kamu sudah parang-parangan dan berdarah-darah. Kita hanya punya waktu untuk mengasah parang, mempersiapkan peluru dan mortir.

Aku ingin tanya: “keadaan seperti itukah yang kamu inginkan?”

Sejujurnya aku sangat sedih saudaraku. Sampai-sampai pada suatu hari di akhir tahun lalu, aku sampaikan seperti ini kepada mahasiswaku di dalam kelas:

“Aku ingin berkenalan dengan kamu, tapi jika aku boleh memohon janganlah beritahu aku tentang apa agamamu, tentang kamu suku apa, dan tentang kamu dari golongan mana. Aku hanya ingin tau nama kamu saja, dan kamu juga cukup tau namaku saja.
Sampai sekarang aku masih bertanya dalam hati, apakah dengan beragama aku sudah pasti masuk surga. Kalau aku bertanya pada agamaku jawabannya aku pasti masuk surga, dan jika kamu bertanya pada agamamu, jawabannya kamu pasti masuk surga. Akan tetapi jika aku bertanya pada agamamu, jawabannya aku pasti masuk neraka, demikian juga sebaliknya jika kamu bertanya pada agamaku, jawabannya kamu juga pasti masuk neraka.

Jika untuk hidup DAMAI harus tidak beragama, biarlah aku memilih untuk tidak beragama. Karena jika kamu tau agamaku, kamu tidak akan pernah membenarkan apa yang diajarkan dalam agamaku, dan jika aku tau agamamu, aku juga tidak akan pernah membenarkan apa yang diajarkan dalam agamamu.

Biarlah kita hanya punya TUHAN saja. Tuhan yang kita percayai masing-masing. Karena hanya DIA yang tau apakah kita masuk surga atau masuk neraka. Tanpa agama bukan berarti tanpa Tuhan.

Jika untuk hidup DAMAI harus tidak beragama, biarlah aku memilih untuk tidak beragama. Karena jauh lebih penting HIDUP DAMAI tanpa agama, dari pada aku harus caci maki kamu, aku harus bermusuhan denganmu, padahal aku beragama. Aku hanya ingin hidup damai biar anak cucuku juga nanti akan hidup dalam damai”.

Sesungguhnya apa yang terjadi di media sosial hari ini sudah sangat membuat kuatir Saudaraku… Disini kita sudah parang-parangan, sudah perang, sudah kampak-kampakan, sudah berdarah-darah. Kadang kita sudah tidak punya waktu lagi untuk liburan, tidak punya waktu lagi ngopi, tidak punya waktu lagi untuk keluarga. Waktu sudah kita habiskan untuk mengasah perang status, memupuk kebencian, dan memperlebar daerah jajahan permusuhan.

Pada keadaan seperti ini aku hanya bisa berdoa dengan segala kerendahan hati yang aku punya, kiranya Tuhan Yang Maha Kuasa jangan sampai biarkan ini terjadi di dunia yang sebenarnya. Jikapun di tahun ini harus tetap ada yang seperti ini, biarlah itu hanya ada di dunia maya. JANGAN SAMPAI TUHAN IZINKAN KITA PUNYA NYALI UNTUK MELAKUKANNYA DI DUNIA YANG SEBENARNYA.

Be the first to post a comment.

Add a comment